Kamis, 22 Mei 2008

Setelah Dua Kali Batal

Kedatangan Menteri Pertanian Diwakili Sambutan Tertulis

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

WONOSARI – Setelah dua kali rencana berkunjung ke Desa Mertelu Gedangsari Gunungkidul batal, rencana Menteri Pertanian Anton untuk tetap hadir ditengah masyarakat kalinya tetap batal.
Kedatangan Meteri Pertanian yang dinanti-nanti warga Mertelu hanay diwakilkan pada beberapa lemar sambutan tertulis yang dibacakan Sekjen Departemen Pertanian Dr Ir Hasanudin Ibrahim mewakili Anton Apriliyanto, siang kemarin.
Dalam isi sambutannya, Anton mengajak Program aksi desa mandiri pangan diberbagai wilayah yang selama ini banyak penduduk miskinnya patutmenjadi contoh bagi daerah lain.
“Program aksi desa mandiri pangan yang mengutamakan makanan tradisional ini baik untuk upaya pengentasan kemiskinan,” kata Hasanuddin membacakan sambutan Menteri yangberhalangan hadir ke tiga kalinya.
Tanpa Kehadiran Anton Aprliliyanto cara tetap berlangsung seperti rencana, nampak hadir Kepala Badan Ketahanan Pangan Dr Ir Kaman Nainggolan MS, para pejabat eselon I Departemen Pertanian, Kepala Dinas Pertanian DIY Ir Nanang Suwandi MMA mewakili gubernur, Bupati Gunungkidul Suharto SH mendampingi perwakilan Meteri Pertanian RI.
Pada kesempatan itu Sekjen Departemen Pertanian meluangkan berkeliling Desa Mertelu yang kenyataannya medan jalan sulit dijangkau kendaraan. Diantaranya bidang pertanian dengan pengembangan lumbung pangan lokal, gerakan makanan beragam dan bergizi pada industri kecil pembuatan tempe benguk dan makanan lain berbahan ketela menjadi isu pokok ketahanan pangan tersebut dikembangkan sampai ke desa-desa. Sekjen juga meluangkan waktu untuk menyaksikan pameran hasil industri kecil, peternakan baik kambing dan sapi.
Ditegaskan Bupati Gunungkidul Suharto SH, program aksi desa mandiri pangan diikuti pembentukan kelompok afinitas dari Rumah Tangga Miskin yang menjadi fokus pemberdayakan usaha ekonomi produktif.






Beli Batik Yuuukk


Ayo Pakai Batik Gunungkidul


Wakil Bupati Gunungkidul Hj Badingah Ssos tengah menunjukkan produk batik hasil pengrajin Gunungkidul yang dipamerkan di Gerai Dekranasda. Kegiatan ini serangkaian pembukaan Gerai Kerajinan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Gunungkidul di Gedung Pemkab Gunungkidul, siang kemarin. (Harian Jogja//Endro Guntoro)

Kalangan PNS Belum Paham Program VCT




WONOSARI : Program Voluntary Conselling dan Test (VCT) yang terus digelar Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Gunungkidul di Gedung Pemkab Gunungkidul pagi kemarin menuai kekecewaan terhadap relawan terhadap kalangan PNS.
Kekecewaan relawan muncul saat program layanan VCT digelar sejak pagi menjadi pusat perhatian baik siswa pelajar sekolah, relawan PMI dan kalangan PNS yang hadir.
“Banyak PNS yang menganggap penyebaran HIV-AIDS ini disebabkan dari satu penyebab saja yakni hubugan seks saja. Stigma itu salah. Dan stigma itu yang memang tengah kita perangi melalui program VCT ini,” kata Issac Tri Oktaviani Direktur PKBI Gunungkidul kepada Harian Jogja, siang kemarin.
Kalangan PNS terdiri bari bapak-bapak yang mendatangi meja pendaftraan relawan PKBI tidak menyambut baik program VCT yang pendaftrannya saat itu depan ruang kerja Sekda Gunungkidul. Sikap PNS tersebut mengesankan test HIV-AIDS hanya sekedar mengkonotasikan bahwa test darah untuk mengetahui positif atau negatif virus HIV-AIDS yang memang mengancam masyarakat mengesankan peserta pernah ‘jajan’ atau serong dengan lain pasangan atau tidak.
“Ini mbak Dia sering gonta-ganti pasangan,” kata seorang PNS berkelakar dengan temannya. Melihat sikap tersebut, para relawan PKBI justru mengambil kesempatan untuk memberikan sosialisasikan program VTC kepada mereka. Namun hal itu justru mengundang kekecewaan karena PNS yangbersangkutan justru langsung kabur saat relawan berusaha memberi penjelasan.
Program VCT menurut Isac Tri sebuah program yang berdasar pada kondisi merebaknya HIV-AIDS yang sudah sampai menyerang lima warag Gunungkidul sebagaimana dalam penelitian Komisi Pemberantasa Aids (KPA) DIY. Program VCT tersebut merupakan konselling gratis dan test darah untuk mengetahui kondisi tubuh terjangkit HIV-AID atau tidak. “Secara prinsip, program VTC ini merupakan program yang mengedepankan hak asasi karena tidak ada paksaan pada klien untuk dilakukan test darah yang memeng hal itu menjadi priovacy seseorang,” kata Isaac.
Selain memberikan layanan konseling dan testing darah, program VTC juga sebagai media sosialisasi mengenal bahaya HIV-AIDS dan cara penularannya. “Kita terus kampanyekan bahwa stigma virus HIV-AIDS didapat pada prostitusi atau pelacuran, dan hubungan seks itu stigma yang salah,” tambah Novan relawan PKBI kepada Harian Jogja, keamrin.
Namun, menurut Issac, alat medis, jaru tusuk, bahkan alat cukur pun bisa jadi menjadi media penularan HIV-AIDS. Atas program ini, Buapti Gunungkidul Hj Badingah Ssos menyambut baik konsentrasi PKBi terhadap bahaya HIV-AIDS yang mengancam Gunungkidul.
Pada kesempatan tersebut, Pemkab menggelar aksi donor darah di lantai II Gedung Pemkab Gunungkidul. Dari aksi sosial ini terkumpul sekitar 200an kantong darah yang dinyatakan steril dan siap disalurkan bagi yang membutuhkan. Kalangan PNS, pelajar, dan pegawai swata rela berantri untuk menyumbangkan darahnya. Pantauan Harian Jogja terdapat dua siswa yang sempatmengalami pingsan usai mendonorkan darahnya dalam serangkaian kegiatan Hari Jadi Gunungkidul ke 177.

Diusulkan, Tanah Lungguh Jadi Penghasilan Tambahan Kades

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

GUNUNGKIDUL – Meski sempat bisa bernafas lega karena pembahasan eksekutif dan legislative soal raperda tentang kedudukan dan keuangan perangkat desa mencapai rencana untuk member gaji Kepal desa senilai Rp 900 ribu per bulan, hal itu masih belum menjawab kekuatiran kepala desa terkait tanah lunguh (bengok) yang semula menjadi sumber ketergantungan hidup kades.
“Kabar hasil raperda yang mengatur penghasilan lurah dan perangkat desa hingga staf belum cukup membuat kami puas. Masih ada satu hal yang kami kuatirkan tentang status tanah lungguh kami,” kata Bambang Setyawan Budi Santosa selaku Lurah Desa Kepek Wonosari ketika ditemui Harian Jogja, siang kemarin.
Mewakili Kades se kecamatan Wonosari, Bambang kuatir jika gaji yang rencananya sampai Rp 900 ribu membuat kades harus kehilangan tanah bengkok yang selama ini diolah sebagai pengganti gaji kades. “Kami sudah merespon berita Harian Jogja edisi hari ini (kemarin) saya bersyukur. Namun tanah bengkok kami masih kuatir tidak diberi kuasa menggrap lagi,” tambah Bambang.
Atas kekuatiran kepala desa ini, akhirnya kepada desa di kecamatan Wonosari sepekat meminta agar tanah lungguh tetap diberikan kades dan perangkat desa sebagai penghasilan tambahan. “Kami berharap begitu karena penghasilan tambahan untuk kades dibolehkan dalam pasal Permendagr 37 tahun 2007.
“Bukankah harapan kades ini sudah kuat menurut Permandagri untuk direalisasikan?” tambah lurah Kepek ini. Bambang juga meminta jika perhatian serius diberikan kepada nasib kades, pembagian tanah lungguh diberikan secar aproposional menurut jabatan di jajaran desa.
Penyataan senada juga diungkapkan lurah desa Wonosari kecamatan Wonosari Suwondo. Lurah yang akrab dipanggil mas Wondo ini memandang penting tanah kas desa diberikan kepala desa sebegai tambahan penghasilan gaji kades yang tengah dibahas DPRD dan Pemkab.
“Kami berharap seperti itu karena sejalan dengan tugas lurah yangkian berat,” kata Wondo. Wondo berharap usulan para kades ini menjadipertimbangan pemerintah dan wakil rakyat sekaligus memberikan payung hukum untuk tanah lungguh.
Penyataan Bambang dan Wondo tersebut tak lain sebagai sikap lurah se kecamatan Wonosari yang berlangsungseecra informasi di Kantor Camat Wonosari siang kemarin mengghadapi persiapan penyaluran Bantuan Langsung Tunai.
Terpisah, Ketua Pansus I Raperda kedudukan keuangan kepala desa perangkat desa DPRD Gunungkidul Ir Imam Taufik menyampaikan terkait tanah lungguh akan diatur dalam raperda pengelolaan asset desa sembari menunggu peraturan Gubernur terbaru yang mengatur rapergub. “itu menjadi pembahasan pansus lain dana kayaknya masih menunggu rapergub yang tinggal tandatangan gubernur,” kata politisi PKS.


Puskesmas Patuk Berstandar International

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

PATUK – Kendati berada di wilayah paling ujung barat Kabupaten Gunungkidul, tidak membuat pelayanan Puskesmas Patuk I tertinggal. Tingkat pelayanan terhadap pasien justru menyandang predikat klas International dengan meriah sertifikat ISO 9001:2000.
“Sertifikaat international ini jangan dipahami sebagai pemenang dalam suatu pertandingan. Sertifikat ini diberikan agar pelayanana yang sudahbaik ini bisa dipertahankan. Dan mempertahankan itu justru lebih sulit,” kata Bupati Gunungkidul Suharto SH dalam sambutannya diacara penyerahan sertifikast ISO 9001:2000 di Puskesmas Patuk I, Kamis (22/5) kemarin.
Menurut Bupati, kualaitas pelayanan puskesmas Patuk harus tetap dijaga. Baik dari sisi kekompakan petugas, dan kualitas pelayanan yang lebih penting yang adalam waktu berikutnya teteap akan dipantau Bupati.
Selain dalam pelayanan bidang pelayanan, Bupati berharap Puskesmas Patuk I seklaigus mempu melakukan pemantauana kasus-kasus gizi buruk, flu burung dan program masyarakat lainnya.
Melalui Achmad Setyahadi selaku deputy manager Worldwide Quality Assurance (WQA) sertifikat ISO diserahkan Bupati Suharto SH dan selanjutnya diterimakan untuk Puskesmas Patuk I melalui dr Dewi Anggraeni.
Sekedar menginformasikan, saat ini Puskesmas Patuk I sudah cukup lenkap dengan dilengkapi tenaga medis terdiri dari 17 paramedis, 5 dokter yang disiagakan dan fasilitas rawat inap, baik untuk perawatan pasien mapun persalinan.

Universitas Gunungkidul Merasa ‘Dicebolkan’

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

WONOSARI : Seringnya tidak dilibatkan dalam kebijakan pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Universitas Gunungkidul (UGK) satu-satunya kampus di Kabupaten Gunungkidul merasa ‘dicebolkan’.
“Kami juga heran kenapa UGK ini tidak diapresiasi dan dilibatkan langsung dalam berbagai kebijakan pemkab Gunungkidul,” kata Drs A Pad Madyana MCRp selaku Kepala Penelitian dan Pengembangan UGK ditemui Harian Jogja, siang kemarin.
Menurut Madyana, dengan kondisi cuci tangan pemkab Gunungkidul ini membuat UGK pada posisi cebol dan tidak bisa bertambah besar. Padahal menurut Madyana, Pemkab Gunungkidul sebenarnya memiliki tanggungjawab dalam membesarkan kampus yang didirinya almarhum Prof. Kusnadi Hrajasumantri dan sejumlah mantan pejabat Gunungkidul seperti Dwi tunggal, Mantan Bupati Gunungkidul Drs .Yoetikno dan almarhum Drs Wasito Donosaroyo saat menjabat Ketua DPRD.
“Itu yang menjadi pertanyaan saya. Kok Pemkab tidak melibatkan kita sebagai akademi yang bercita-cita dalam upaya pengembangan Gunungkidul,” keluh mantan dosen STPMD APMd yang kini menjadi pioneer majunya UGK.
Dalam berbagai hal termasuk kebijakan pendidikan dan pembangunan Gunungkidul dalam arti luas, menurut Madyana, UGK telah mendekatkan diri dengan dinas instansi maupun pejabat. Namun hal itu tidak mengubah kondisi cebolnya UGK.
Sebagai contoh, Madyana menyebutkan beberapa program yang pernah ditawarkan diantaranya rencana rehabilitasi lahan krtitis Gunungkidul untuk kawasan kars di lokasi antara pantai Siung dan pantai Timang yang hingg akini tak kunjung mendapat respon. “Apalagi support anggaran, kita tidak pernah mendapat perhatian,” lanjutnya.
Padahal rencana rehabilitasi lahan kritis ini secara rinci akan menjadikan hutan lindung di alas Jurug dan alas Lenggoko yang selanjutnya akan diberi nama Pencananagan Hutan Alam Kusnadi. “Apa masalah yang menhambat UGk seperti akses, founding dan minimnya mahasiswa belum menyita perhatian pemkab,” tambahnya.
Secara prinsip, Madytana mengaku bahwa tidak ada ‘garis’ hubungan pemkab Gunungkidul dengan UGK, namun kebijakan yang ditelorkan eksekutif dirasa tidak menyentuh upaya mmebesarkan UGK di Gunungkidul. Demikain dengan beberapa peluang kemungkinan dilakukan kerjasama anatara pemkab dan UGK, lebih dulu UGK diklaim sebagai kampus yang belum mampu dan belum cukup mumpuni. “itu kenyataannya sehingga handarbeni UGK ini berakibat UGK harus mendiri.
Initerlihat dari persiapan pihak kampus yang melibatkan Badan Eksekitif Mahasiswa UGK untuk giat bersosialisasi kepada semua kalangan masyarakat untuk menjaring mahasiswa menjelang penerimaan mahasiswa baru bulan depan.
Enam Prodi Ditutup
Yang lebih ironis lagi, kondisi di Universitas Gunungkidul dipastikan enam program studi yang bias sebenarnya sebagai investasi SDM dalam upaya pembangunan Gunungkidulk justru resmi ditutup tahun ini.
Enam prodi yang sebenarnya turut menjadi kontribusi pemkab yang tahun ini hgarus tutup adalah Ilmu Kelautan, Teknik Geologi, Ilmu komunikasi, Ekonomi Pertanian, dan Perikanan. Ini lantaran dalam kurun waktu tertentu tidak mendapatkan mahasiswa.
Namun demikian, untuk tetap membawa UGK eksis, tutupnya enam program studi UGK tahun ini akan dibuka dua prodi baru diantaranya Ilmu Kesehatan terdiri dari jenjang D3 untuk Ilmu Kebidanan dan Strata-1 untuk Ilmu Keperawatan. Sedangkan untuk prodi Ilmu Keguruan di buka jurusan PGTK dan Paud (Pendidikan Anak Usia Dini), PGSD, PGIPA, dan PG Bahasa Daerah.
“Masyarakat tidak perlu kuatir UGK bakal dibekukan karena per semester kita aktif melaporkan Evaluasi Program Studi Berdasar Evaluasi Disi ke Kopertis V tidak seperti beberapa kampus di Jogja menunggu nasib akan dibekukan,” imbuh Madyana.

Konsep Mentah, Dewan Minta Pending

Terkait Penyaluran Program Pendidikan Murah

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA
WONOSARI - Program pendidikan murah yang rencananya akan digulirkan Pemkab Gunungkidul bulan Mei ini melalui Dinas Pendidikan Gunungkidul mengalami hambatan. DPRD Gunungkidul secara tegas meminta program belum memiliki konsep yang jelas ini harus dipending sampai ada konsep yang jelas agar tidak memicu persoalan baru.
Akibatnya rencana realisasi program pendidikan murah senilai Rp 11 Milyar untuk siswa dari keluarga tidak mampu akan diberikan bulan ini terpaksa mundur.
“Kita himbau program ini tidak direalisasikan dulu karena kalau dipaksakan dikuatirkan justru akan menimbulkan masalah. Kitaminta dipending dulu agar dinas mebuat konsepnya,” Kata Ir Imam Taufik Komisi D DRPD Gunungkidul, kemarin.
Menurut Taufik, hingga kemarin Diknas belum memberikan konsep secara jelas bagaimana teknis penyaluran program pendidikan murah itu akan digelontorkan. “Kita harap pekan depan diknas sudah menyerahkan formatnya untuk kami kaji pelaksanaannya,” imbuh politisi PKS.
Lebih jauh, Taufik berharap konsep pendidikan murah yangdiharapkan segera terbit ini mengatur system pengawasan termasuk sanksi jika peruntukannya melenceng. Dengan pengawasan, menurut Taufik, pelaksanaan program pendidikan murah bisa benar-benar menyasar bagisiswa hanya yangpantas mendapatkan.
Sementara itu, Warta SIP anggota komisi D menghimbau diknas agar lebih bergegas mengejar pelaksanaan program tersebut digulirkan. Menurutnya, untuk kondisi saat ini terdapat sudah ada kelulusan otomatis akan mempengarhui data calon penerima yangberhak. “Dengan kondisi sekarang harus ada data baru. Dan akan mempengaruhi mata anggaran yang sudah ditetapkan secara keseluruhan,” kata anggota dewan dari partai banteng moncong putih ini.
Menanggapi hal itu, wakil ketua DPRD Gunungkidul Ratno Pintoyo SSos menilai program pendidikan murah paling tidak mengaju pada tujuannya yakni membatu siswa sekolah dari latar belakang keluarga tidak mampu. “Kalau sampai data tidak valid dikuatirkan memicu persoalanbaru,” imbuh Ratno Pintoyo SSos selaku wakil ketua DPRD.
Sebelum terdapat siswa yang lulus di bulan Mei 2008 data penemrima bantuan sebanyak 43.890 siswa, jumlah penerima tingkat SMP berjumlah 21.945 dan untuk tingkat SLTA senilai 13 300. Dari jumlah penerima untuk SD akan diteimakan Rp 90 ribu per siswa per bulan, Siswa SMP dari keluarga tidak mampu digelontor Rp 180 ribu per siswa per tahun. Sedang untuk siswa SLTA senilai Rp 300 per siswa per tahun.
Hingga siang kemarin, kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul belum bisa di konfirmasi mengingat tengah berada diluar kota menjalankan tugas.

Video ‘Patuk Bergoyang’ Sudah Beredar


PATUK – Belum reda maraknya adegan porno sejumlah kota tidak membuat pemain adegan syur Gunungkidul berdiam diri. Rekaman video yang kerab disebut berjudul ‘Patuk Bergoyang’ itu kini sudah beredar luas di pasaran konsumen handphone.
Sumber Harian Jogja menyebutkan adegan porno berdurasi 3 menit 40 detik ini dimainkan sepasang remaja putri dan laki-laki desawa itu sengaja direkam dalam berbagai sudut angle pengambilan gambar dalam sebuah kamar menyerupai losmen dan penginapan kelas melati.
Ada yang menarik dari proses pengambilan gambar adegan film Patuk Bergoyang ini. Selain kualitas gambar lebih jernih secara fulgar wajah si-cewek justru action didepan kamera. Teknik pengambilan angle adegannya pun terbilang cukup canggih. Zoom out dan zoom ini kerab di gunakan dalam teknik film yang tidak layak ditonton ini. Namun hingga berakhirnya adegan wajah laki-laki ini tak juga terlihat.
Salah satu warga Kecamatan Wonosari yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah mendengar kabar beredarnya film produk putra daerah ini. “Saya sudah mengakses film itu beberapa minggu yang lalu,” kata pemuda di temuai Harian Jogja di sela pertandingan basket sore kemarin.
Sumber lain menyebutkan film indie tersebut sudah beberapa bulan lalu sebenarnya sudah beredar di kalangan anak muda Wonodari dana kalangan pelajar. Karena kini banyak layanan inframerah, maka gambar tersebut dengan cepat menyebar dari ponsel ke ponsel. “Saya tidak perlu download dari internet, melalui infrared langsung oke,’ kata anggoat klub motor sore kemarin.
Kabar beredarnya adegan panas ini juga sampai di Polres Gunungkidul. Banyak yang memprediksikan, pemain adegan cewek diprediksi masih siswa SMP. “Isu atau bukan belum tahu. Hanya kabarnya pemainnya warga Patuk,” kata beberapa anggota Polres dikantin, siang kemarin.
Kapolres Gunungkidul AKBP Suswanto Joko Lelono ketika dikonfirmasi mengaku belum mengetahui secara pasti kebenaran beredarnya gambar adegan panas dua sejoli itu. “Sacara pasti kita belum bisa memastikan apakah itu benar-benar produk pelaku beralamat di Patuk atau dari luar Gunungkidul. Kita belum bisa memastikan,” tegas Joko Lelono. Pihaknya akan melakukan tindaklanjuti dengan melakukan pengcekan kebenaran kabar tersebut. (gun).

Menengok Desaigner Pengrajin Gunungkidul

Exis Ketika Sepi Permintaan

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

Wahai Pemerintah, Wakil Rakyat dan Saudara-saudara. Hidup boleh sederhan, tapi tidak untuk pikiran, ide, gagasan...Teruslah eksplorasi diri agar senantiasa menghasilkan karya sehingga hidup tidaklah sia-sia, berguna bagi diri, lingkungan dan warga..
Kalimat itu ditulis Ahmad Andre awal Agustus 1997 diatas lembar kertas HVS. Kata mutiara itu dirasa mampu menggelorakan semangat berkarya setelah sebelumnya usaha mengalami gulung tikar. Andre yang tengah berupaya keras melawan penyakit strock diusianya ke 60 tahun ini mengabadikan kata mutiaranya yang sangat lugas. Sampai sekarang masih tersimpan rapi ditumpukan stopmap disalah satu rak buku ruang kerja Acmad Andre.
Andre bukanlah seorang pujangga, Andre adalah seorang pengrajin yang memilih sewa rumah jalan Jogja-Wonosari, tepatnya di pedukuhan Ledoksasi Desa Kepek kecamatan Wonosari Gunungkidul untuk produksi kerajinan dan barang-barang seni.
Kendati penyakit strock mengganggu keliarannya beraktivitas, namun saat Harian JOGJA berkunjung dirumah produksinya, diseberang kampus Universitas Gunungkidul (UGK), pemikiran bapak tiga anak yang nglajo dari Jogja masih terlihat tajam dengan kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berorientasi pada kepentingan wong cilik khususnya kalangan pengrajin.
“Saya merasakan pemerintah sampai hari ini belum berbuat apapun termasuk kebijakan yang bisa menghidupkan geliat pengrajin,” kata Andre tanpa menyebutkan pemerintah yang dimaksud. Menurut pengrajin kawakan 48 tahun bergelut benda kerajinan dan seni kebijakan pemerintah belum menyentuh pelaku kerajinan dan selama ini hanya program-programnya masih sebtas lips service. Apa yang terjadi dan sedang dibutuhkan masyarakat cilik, menurut Andre belum ditangkap pemerintah baik pusat maupun kabupaten
Dilihat kota Wonosari yang belum pernah terdapat rumah produksi untuk kerajianan dan seni justru menjadi keanehan Andre untuk yang tetap eksis ditempatyang tidak mendukung produksi kerajinan dan seni.
Sebagai designer sekaligus pengrajin benda-benda seni, saat sepi pesanan seperti saat ini justru menjadi peluang kesempatan untuk melakukan eksplorasi diri dengan membuat produk untuk kebutuhan sampel pemasaran. Mengingat, bukan lagi pasar dalam negeri seperti Bali, Bandung dan Jakarta produk Andre ini ternyata juga diincar buyer yang indikasinya akan ke negara lain seperti Paman SAM (amerika), Belanda (kota kincir), dan negara asing lain yang menjadi negara penadah karya kerajinan Andre.
Memilih Wonosari Bagi Andre cukup beralasan, potensi SDM belum tergarap, kesediaan bahan baku masih mudah didapatkan dengan harga terjangkau. Sebagai misal, kebetulan Andre sekarang tengah hobi jenis kerajinan kayu, bahan kayu donglak (sisa batang pohon yang sudah ditebang) menjadi menutup rangka utnuk pesenan jenis cermin.
Dengan design artistik cermin berbingkai dongkak ini nampak hidup dan bernilai artistik tinggi. “Dari situ jika orang bisa memasarkan akan mendatangkan uang,” katanya. Bagi Andre, produksinya sengaja tidak memberlakukan aturan minimal pemesanan karena bidikan kita memamg nilai art-nya bukan asal pesan,” imbuhnya.
Masih banyak, menurut Andre potensi di Gunungkidul yang belum digarap secara serius menjanjikan peluang diantaranya cor besi, pande besi, batu, dan banyak lain yang sebenarnya tengah menjadi tren seni utuk negara luar.
Meski bukan bagian dari asosiasi/organisasi pengrajin selayaknya Dewan Kerajunan Nasional (Dekranas) namun Andre berharap agar kalangan UKM, pengrajin diberikan porsi keberpihakan yang layak.
Perancang interior taman monumen nasional (monas) di era 90an, design sidang utama DPR RI di Senayan dan design lampu 24jam sepanjang bandara cengkareng, dan pembuat bungai bangkai di taman Monas tahun ini.


Caption Foto : Seorang pengrajin bekerja di Ahmad Andree tengah melakukan eksplorasi. (Harian Jogja/ Endro Guntoro)

Bayi Malang Dibuang

WONOSARI – Warga Putan Desa Putat kecamatan Patuk Gunungkidul dibuat gempar dengan penemuan sesosok bayi diperkirakan berusia sekitar empat hari ini ditemukan didalam tas plastic lengkap dengan ari-ari dalam kondisi sudah tewas.
Bayi malang diduga hasil dari hubungan gelap pasangan bejat diduga sengaja dibunuh dan ditemukan pemilik lading bernama Samiyen (50) warga setempat, Kamis (21/5) sekitar pukul 09.30 WIB
Menurut Samiyem, saat dirinya tengah meladang muncul kecurigaan dengan keberadaan bungkusan tas plastic yang mengeluarkan aroma busuk dan mengundang lalat beterbangan di sekitarnya.
“Karena penasaran maka saya ambil bungkusan itu dan buka isinya yang ternayat isinya berwujud bayi,” kata Samiyem saat dimintai keterangan petugas.
Saat ditemukan bayi didalam tas plastic warna hitam itu dalam posisi pinggir sawah jalur Jogja-Wonosari sekitar KM 12 dari Wonosari atau berseberangan dengan gedung koperasi di Putat.
Petugas gabungan dari Unit Identifikasi Reskrim Polres Gunungkidul dan Medis dari Puskesmas Patuk langsung melakukan pemeriksaan dilokasi kejadian. Menurut petugas, kuat dipercaya bayi malang ini sengaja di bunuh. Ini terlihat dengan ditemukannya seutas tali raffia tak jauh dari lokasi penemuan bayi.
Kapolres Gunungkidul AKBP Drs Suswanto Joko Lelono dikonfirmasi menyatakan penemuan bayi ini masih dalam upaya penyelidikan petugas. “Kita masih terus berupaya mencari informasi sekecil apapun setelah mendapat dari saksi yang menemukan,” kata Joko Lelono.
Melalui Satuan Reskrim, sejumlah rumah bersalin dan praktek bidan di Gunungkidul langsung dilakukan pendataan untuk menyingkap identitas pelaku yang kini masih gelap. Sementara itu, guna kepentingan penyelidikan, petugas langsung membawa mayat bayi ke RS Sardjito Jogja untuk menjalani pemeriksaan visum medis. (end).

Asosisasi BPD Se Gunungkidul Terbentuk

Suharto ; ABPDSI Jangan berharap bantuan

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

WONOSARI – Bupati Gunungkidul menyambut gembira atas Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Seluruh Indonesia (ABPDSI) Kabupaten Gunungkidul yang sudah terbentuk. Bupati berharap asosiasi ini menemukan arah dan tujuan wadah asosiasi sebelum menindaklanjuti pembentukan ABPDSI ditingkat kecamatan.
“Kami menyambut baik terbentuknya asosiasi. Kami berharap asosiasi ini bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik,” kata Bupati Gunungkidul Suharto SH kepada pengurus ABPDSI dikantor dinas Sewokoprojo Pemkab Gunungkidul, Kamis (21/5) siang kemarin.
Menurut Suharto, sebelum menindaklanjuti pembentukan ABPDSI ditingkat kecamatan, pengurus ditingkat kabupaten yang sudah terbentuk terlebih dahulu merumuskan tujuan dan arah asosiasi. Hal ini penting agar keberadaan aosiasi tidak melenceng dari tujuan bersama. “Kalau tujuannya sudah kecekel baru asosiasi induk di tingkat kecamatan dibentuk,” tambah Suharto didampingi Kantor Informasi dan Komunikasi (Inkom) Gunungkidul, CB Supriyanto SH, Bupati.
Dihadapan perwakilan pengurus ABPDSI, Bupati ancang-ancang agar keberadaan asosiasi tidak banyak mengaharpkan bantuan dana dari Pemkab Gunungkidul. Ini terkait periode yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Secara prinsip Bupati menyambut baik terbentuknya ABPDSI. Namun sejak dini Bupati sudah ancang-ancang menegaskan Pemkab Gunungkidul tidak bisa pemerintahan sebelumnya yang selalu bisa menopang dana dan memfasilitasi munculnya asosiasi-asosiasi. “Jaman sekarang sudah berbeda. pengawasan dan pengelolaan anggaran keuangan jaman sekarang harus ketat. Jadi saya tegaskan membentuk asosiasi jangan berharap apapun,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ABPDSI Kabupaten Gunungkidul melalui ketua terpilih H.Iskamto AR, S.Ag diikuti 18 pengurus perwakilan ditingkat kecamatan menyampaikan beberapa pengurus abpdsi terpilih dan mengharapkan Pemkab Gunungkidul memperhatikan asosiasi yang rencaannya akan dibentuk ditiingkat kecamatan.
Menurut Iskamto sudah menjadi tugas dan wewenang pemerintah daerah untuk melakukan berbagai pembinaan untuk perkembangan asosiasi sebagaimana disebut dalam PP 72 tahun 2002. “Intinya kami meminta perhatian pemrintah kabupaten untuk memperhatikan keberadaan kami sebagai BPD yang juga bekerja di tingkat paling bawah,” kata Iskamto.

Kades Digaji Rp 900 ribu


Status Tanah Bengkok Ngambang

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA
WONOSARI : Keluh kesah minimnya kesejahteraan Kepala Desa akhirnya terjawab. Ini setelah DPRD Gunungkidul menyetujui draf raperda tentang Kedudukan keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa yang diajukan eksekutif. Dewan menyepakati gaji perangkat desa Rp 900 ribu per bulan. Nilai itu lebih tinggi dari draf Pemkab yang hanya mengusulkan Rp. 800 ribu per bulan.
“Kami menilai draf reparda yangh sudah kita pelajari ini belum mencukupi kebutuhan lurah desa. Untuk itu pansus menyepakati gaji finalnya untuk lurah Rp 900 ribu, “ kata Ketua Pansus I DPRD Gunungkidul Ir Imam Taufik, siang keamrin.
Menurut Taufik, sebgaiamana draf yang diajukan eksekutif melalui Bagian Pemerintaha Desa Kabupaten Gunungkidul kurang menjamin terciptanya kesehteraan bagi jabatan kepala desa yang memang cukup berat untuk itu perlu kajian ulang dengan menambah gaji kepala desa dan staf.
Dari darf raperda yang diajukan eksekutif, selain menaikkan gaji kepala desa Rp 900 ribu dari semula hanya diusulkan Rp 800 ribu. Selain kepala desa, pansus juga menilai gaji untuk staf di pemerintah desa Rp.590 ribu dari draf semula hanya Rp 575 ribu. Sedang tiga posisi jabatan sekretaris desa, Kabag/kaur, dan dukuh sesuai dengan draf raperda. Untuk posisi jabatan carik rencananya gaji Rp 700 ribu, Kabag dan kaur Rp 650 ribu dan kepala dusun Rp 600 ribu.
Sementara itu, terkait dengan status tanah kas desa yang selama ini menjadi penghasilan perangkat desa sebelum digaji, Pansus meminta eksekutif untuk mengambil sikap. Apakah tanah bengok ini tetap menjadi penghasilan tambahan para perangkat desa yang menggarap atau menjadi pengasilan desa atau APBDes. ”Kebijakan status tanah lungguh ini belum disentuh dan perlu dipastikan karena menyangkut kepastian hukum,” imbuh Taufik yang juga ketua Fraksi Kesatuan Umat dari PKS kepada harian Jogja.
Terpisah, Warta SIP anggota pansus menegaskan status tanah bengkok yang selama ini menjadi tanah lungguh untuk kompensasi jabatan perangkat desa telah diatur dalam Permendari nomor 37 tahun 2007. Menurutnya, tanah tetap bisa dikelola masing-masing yang berhak menjadi penghasilan tambahan perangkat desa. “Dengan perangkat desa diberi gaji dan penghasilan tambahan idealnya lurah dna perangkatnya tidak lagi cari saweran di luar dan konsen pada pelayanana publik,” tegas politisi PDIP. Warta menghibau untuk pengelolaan tanah kas desa tetap menjadi pendapatan desa.
Senada dengan Warta SIP, Drs. Masiyono anggota pansus dari fraksi Golkar berharap agar status tanha bengkok tetap menjadi penghasilan tambahan perangkat desa. Selain karena tugas perangkat desa berat dengan diberikan penghasilan tambahan akan memberi support psikologis bagi perangkat desa ditengah masyarakatnya. Pro kontra status tanah bengkok ini selanjutnya akan di bahas pansus dengan eksekutif, beso pagi (hari ini).

TMMD Kobarkan Semangat Gotongroyong

WONOSARI – Program yang awet di tengah masayarakat adalah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Kegiatan regular ke-80 itu secara khususnya menggugah warga mengobarkan kembali jiwa kegotongroyongan.
Berpusat di desa Sumbergiri Kecamatan Ponjong pelaksanaan TMMD ke 80 ini diantaranya diwujudkan dalam upaya mengecoran jalan jalan sepanjang 1 kilometer, pendirian Poskamling, dan rehap bangunan tempat ibadah masjid yang sudah rusak.
“Kiprah TNi di tengah warag ini bukan sekedar fisik.. Namun bebagai kegitaan membantu warg atemasuk memberikan penyuluhan dan sosialisasi berbagai macam hal seperti penanganan bahaya DBD, virus AI, dan kebutuhan lain masayakat yang bias TNI bias berikan, ” kata Kolonel Ir. Drs. Subekti MSc selaku Danrem 072 Pamungkas dalam sambutan pembukaan TMMD, keamrin.
Kegiatan itu dibuka Danrem dengan pemukulan kentongna dan penyerahan alat kerja secara simbolis. Pada kesempatan itu Danrem jug amenyerahkan bantuan bibit tanaman untuk rehabilitasi lahan kekeringan.
Bersamaa dengan Danrem, Bupati Gunungkidul Suharto Sj yang turut mengahdiri pembukaan TMMD memberikan benih kedelai dan menbar sekitar 6000an bibit ikan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul. (end)


Sulitnya mencari pelajar yang faseh berbahasa jawa.

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

Dikalangan pelajar khususnya SLTA, lambat laun bahasa jawa mulai ditinggalkan dalam bahasa komunikasi keseharian di lingkungan siswa. Ironisnya bahasa jawa yangmenjadi nilai luhur untuk dikembangkan ini jusrtu memunculkan bahasa baru, bahasa proken dengan istilah yang kental budaya pops. Itulah yang membuat Lomba Pidato Bahasa Jawa yang digelar Panitia Hari Jadi 177 Kabupaten Gunungkidul yang dilaksanakan di gedung DPRD, Sabtu seharian kemarin minim peserta.
Namun bukan untuk Haru Ruktini. guru bahasa jawa di SMA Negeri I Karangmojo ini masih terus berupaya menciptakan bahasa jawa untuk tetap dicintai muridnya. Ini terbukti, Haru meng-karbit dua siswanya Lauren Dian Kristanto dan Rahmadiyanto dalam waktu kilat menjadi dua dari 45 peserta.
Bahasa jawa yang mulai tidak di ngtrend dilakangan pelajar SMA ini juga terlihat dari event lomba pidato bahasa jawa tingkat SLTA se Gunungkidul hanya diikuti 45 peserta. Jumlagh tersebut sangat tidak sebanding dengan jumlah SMA-SMK di Gunungkidul baik negeri dan swasta yang mencapai sekitar 98 sekolah. Jika bahasa jawa ini masih menjadi salah satu favorit, pendidik di SMA Negeri Karangmojo I ini yakin pesertanya hamper 200an karena sekolah wajib mengajukan dua peserta untuk lak-laki dan perempuan.
Meski dua jagoannya mendapatkan nomor tampil peserta akhir, Haru tetap setia menunggu Lauren dan Rahmad di ruang loby gedung dewan yang belum juga tampil ke depan tiga dewan juri. Dari mata Haru menyimpan penantian kemenangan dari salah satu jagoannya. “Saya optimis, paling tidak Lauren bakal menang,” imbuh guru ini dengan berkonsentrasi menyaksikan peserta lain yang tampil.
Sesakali harapan Haru menghilang, setelah penampilan peserta lain dinilai lebih berbobot namun optimistis tetap Haru kobarkan dalam diri dua jagoannya, Lauren dan Rahmad yang tampil diurutan akhir. Lebih-lebih ketiga dewan juri lomba pidato bahasa jawa kemarin sengaja dipilih panitia dari guru bahasa jawa beberapa SMA yang juga mengajukan peserta. “Jujur saja, itulah yang membuat saya sempat degdeg sir… kalau kualitas jago saya tidak perlu saya kuatirkan,” kata Haru.
Haru tidak banyak memberi persiapan dua duta SMA Negeri I Karangmojo untuk bertarung dengan peserta dari SMA lainnya. Hanya dua hari untuk mengkarbit Lauren dan Rahmad menjadi mental baja. Paling prinsip surat bernomor 421/800 Dinas Pendidikan Gunungkidul perihal pengiriman peserta baru di terima tiga hari sebelum lomba digelar. “Setelah menerima undangan itu saya kaget karena hanya memiliki dua hari,” keluh Haru tetap mengirimkan peserta dengan mengangkat tema pidato "Tangap warsa Magegipun Kabupaten Gunungkidul Linandesan Kebangkitan Nasional kangge Mawas Karahayonaning Masyarakat Gunungkidul"
Sebagai guru mata pelajaran bahasa jawa, yang juga dirasakan guru jawa sekolah lain kini makin kesulitan mencari bibit bintang bahasa jawa di sekolah. “Untuk saat ini, mungkin juga dirasakan semua guru bahasa jawa sulit mencari siswa yang mengerti bahasa jawa,” kata Haru dan guru lain yang hingga saat ini belum mendapat kepastian pemenangnya karena karus menunggu saat puncak hari jadi untuk disebutkan pemenangnya. Namun Haru yakini bahasa jawa sangat dibentuk dari lingkungan keluarga. Bisa dikatakan, bahasa jawa menjadi cermin melihat kehidupan siswa di masing-masing keluarganya. Matur sembah nuwun.



Yoetikno Buka Loundry dan Subechi Jadi Dosen

Pejabat Pemkab Sungkem Mantan Bupati
GUNUNGKIDUL – Mantan pejabat Gunungkidul sang keamrin mendapatkan tamu istimewa. Pejabat Pemkab Gunungkidul sungkem ke beberapa rumah mantan pemimpin Gunungkidul secara terpisah. Aacar ini tak lain sebagai rangakian menyongsong hari jadi Gunungkidul yang jatuh pada 27 Mei mendatang.
Pejabat pemkab yang hendak swungkem ini terbagi dalam tiga rombongan secraa terpisah. Rombongan Bupati Suharto SH sungkem Mantan Bupati Guungkidul Gunungkidul yang kini tinggaldi Surakarta yakni Ir.Soebekti Sunarto. Ro,bongan bupati ini didampingi Assekda II Drs Joko Sasono, kepala Bappeda H Eko Subiyantoro SH, Kepala Dinas Sobermas Sugeng Pratopo SSos dan Wasito SH MSi. Rombongan berikutnya dipimpin Sekda Gunungkidul Drs Bambang Hariyanto MM mempimpin silaturahmi di mantan bupati Gunungkidul KTR Harsodiningrat dan KRT Sosrohadiningrat dikomplek Kraton Jogjakarta.
Rombongan Wakil Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos memimpin Asisten bidang administrasi umum Drs Aris Purnomo, Dr Widodo MM sungkem mantan dwi tunggal Gunungkidul Drs Yoetikno di Rejowinangun Jogja dan Drs Subechi MM di Umbulharjo Jogja.
Kedatangan Wabup Hj.Badingah SSos beserta rombogan ini diterima Drs Yoetikno dan istrinya yang hari-harinya tengah menikmati masa pensiunan dengan wiraswata. Dalam silaturahmi kali ini, Yoetikno tidak menyampaikan kesan dan kesan untuk Gunungkiudl ke depan. "Kami senang didatangi para pejabat Gunungkidul. Kmai sekarag sibuk wiraswasta setelah tidak menjabat Bupati lagi," kata Ny.Yoetikno mendampingi suami tercintanya yang mengenakan kemaje batik.
Mantan orang nomor satu di Gunungkidul ini, Yoetikno mengaku tertarik menggeluti dunia wirausaha. Selain memiliki fitness center, Usahanya kecil-kecilan dirintis untuk mengisi waktu luangnya speerti, counter HP dan jasa laundry. ‘Apakah Bapak akan aktif di Parpol pemilu besok? " kata seorang PNS yang penah menjadi protokoler saat menjabat. Pertanyaan itu langsung disamber Yoetikno yangmenegaskan tidak akan berpolitik. Suasana silaturahmi di kediaman Yoetikno ini nampak hidup . Nyaris batas senior dan yunior sangat tipis dengan canda tawa dan kisah nostalgia selama Yoetikno menjabat.
Lain halnya dengan sungkem di mantan wabup Drs Subechi MM rombongan wabup Badingah SSos ini menadapat wejangan. "Saya hanya berpesan agar hati-hati menajdi pemimpin jangan samapi tersandung kasus. Bekerja harus iklas melayani masyarakat sesuai rel," kata aktivis NU yang kini kembali ke habitata kampus sebegai dosen di PTS Jogja.
Silaturahmi yang setiap tahunnya digelar ini menjadi tradisi menjalin hubungan kedetakan pejabat dan mantan pejabat yang menjadi serangkaian acara kegiatan pemkab Gunungkidul menyambut Hari Jadi Gunungkidul ke 177. Senin mendatang, rencananay roimbogan pejabat ini juga akan berxiarah ke sejumlah makam pejabat pemkab Guungkidul baik di Jogja maupun di makam raja di Imogiri Bantul (gun).

Tipikor dan BPKP Audit

Dugaan korupsi markup pengadaan tanah kas desa Kepek

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

SAPTOSARI – Setelah Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satuan Reskrim Polres Gunungkidul,Polda DIJ dan BPKP Yogkakarta gelar perkara dugaan kasus markup tanah kas desa Kepek Kecamatan Saptosari Gunungkidul, dalam waktu dekat tahap penyidikan akan dilanjutkan dengan melakukan audit.
Audit BPKP dan Unit Tipikor ini dilakukan untukmengetahui memeriksa langsung nilai kerugian yang ditimbulkan dari dugaan mark’up yang telah menyeret dua perangkat desa Kepek sebagai tersangka. Namun demikian untuk waktu pelaksaan audit masih menunggu koordinasi beberapa jajaran terkait.
Kapolres Gunungkidul AKBP Drs Suswanto Joko Lelono melalui Kanit Tipikor Aiptu S Widiantoro menyatakan masih menunggu koordinasi pelaksaan audit BPKP . “Melalui Polda DIJ, kita sudah gelar perkara dengan BPKP DIY. Rencananya akan gelar perkara akan ditindaklanjuti dengan langkah audit yang pelaksanaannya masih dalam koordinasi,” kata Aiptu S Widiantoro.
Sebagaimana dugaan markup pengadaan kas Desa Kepek yang tengah menjadi konsentrasi penanganan penyidikan Unit Tipikor Polres Gunungkidul, dua tersangka yang resmi menyandang tersangka yakni Muyakno selaku lurah Kepek dan Ngajiman selaku Kaur Bidang Pemerintahan Desa Kepek.
Dalam langkah penyidikan, Unit Polres telah memeriksa beberapa saksi baik dari tujuh warga Kepek yang tanahnya dibeli tim Desa Kepek untuk tanah pengganti kasa fdesa yang dibangun untuk kantor kecamatan Saptosari. Selain itu, penyidik telah meminta keterangan saksi termasuk kepala dusun yang disebut-sebut pernah menerima aliran uang hasil markup kas desa.
Data yang berhasil dihimpun harian Jogja, pengadaan tanah kas desa pengganti ini bersumber dari APBD Gunungkidul tahun 2005 senilai Rp 340 juta melalui Bagian Pemerintahan Desa. Namun hingga proses penyidikan kasus yang diduga merugiana keuangan Negara seniali Rp 80juta ini belum melibatkan nama pejabat eksekutif untuk dimintai keterangan, meski dua tersangka sempat menyebut beberapa nama pejabat eksekutif.
Sekedar diketahui, indikasi tindak korupsi ini terendus Unit Tipikor Polres setelah adanya laporan warga Kepek yang menemukan dugaan mark’up harga tanah dalam pengadaan pengganti tanah kas desa Kepek yang digunakan lahan Kantor Camat. Melalui upaya tim desa, dibeli tanah dari tujuh warga untuk tanah kas desa. Dalam pembayaran pembelian tersebut, ditemukan adanya selisih harga tanah dengan nilai yang diterima ketujuh warga. Lima dari tujuh warga mengaku menerima uang tidak sebagaimana dengan nilai nominal berita acara pembayaran tanggal 23 Agustus 2007.
Dalam pengakuan tujuh warga saat dimintai keterangan Unit Tipikor, dua warga Sumarjo dan Sardjono menerima pembelian harga sesuai dengan berita dan kelima lainnya yakni Siswo Sentono menendatangi Rp.57,5 juta jumlah yang diterimakan Rp 33,5 juta. Sutardi menerima Rp 30 juta namun menandatangi penyerahan Rp. 57,7 juta, Kismorejo nominal yang diterima Rp 27,5 juta dan menandatangi Rp 30juta. Hal yang sama juga alami dua warga lain, Mardi Jemiko menandatangi Rp 30 juta dan hanya menerima Rp 29 juta. Sementara Wonokaryo yang diwakili Mardi Utomo dipaksa menandatangani berita acara pembayaran tanah Rp 38juta dan hanya menerima Rp 12juta. Meski awalnya menerima, namun ketujuh warga ini akhirnya merasa dirugikan dan melaprokan kejadian yang dialami ke Polres Gunungkidul.

Libur Waisak Pantai Diserbu Wisman

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

TANJUNGSARI– Libur hari raya waisak yang jatuh pada hari Selasa (20/5) keamrin menjadi kesempatan wisatawan menikamti obyek wisata pantai di Gunungkidul.
Pantaian Harian Jogja, di Pantai Baron, di desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul wisman tetap bludag. “Sejak pagi berangsur-angur pengunjung makin bertambah baik yang menggunkaan motor mapun rombongan,” kata Agus Hartoyo salah satu petugas TPR di Pantai Baron kepada Koran ini.
Para pengunjung pantai baron ini terlihat dari beberapa daerah luar kota seperti Solo, Banjarnegara, Surabaya dan Semarang . “Rombongan sepda motor juga tidak kalah. Justru sejak malam sudah banyakpengunjung mengisi liburan kali ini,” kata Sugiarto petugas lain.
Semenatara itu, bludagnya pengunjung pantai Baron di hakri libur kemarin juga berdampak pada sector lain. Meski tidak sampai penuh, bisnis penginapan dan hotel juga diuntungkan dengan event liburan kali ini.
“Pengunjung hari liburan ini banyak kita tidak sampai ke habisan kamar,” kata Arifin salah satu petugas penginapan di komplek Pantai Baron. Bisnis hotel dan penginapan di komplek Baron inipada dasarnya bersaing secara sehat. Jika salah satu pengipana sudah penuh pengunjung memberikan penginapan lain tanpa harus membuka kamar tambahan lain. “Begitulah kerjasama kita agar tetap bisa eksis berbisnis di sini,” tambahnya.
Pemandangan ramai juga nampak di beberapa Pantai lasin seperti Pantai Krakal, Kukup, Pulau Drini dan Pantai Sundak. Namun demikian para pengunjung tidak bisa menikmati hasil tangkapan ikan karena kecilnya stock nelayan dan pedagang ikan. “Kita memang baru berani melaut beberapa hari ini jadi stock sangatterbatas,” kata Hadi nelayan Pantai Baron. Demikian dengan sejumlah restoran tidak banyak memiliki stock ikan yang menjadi andalan wisman saat lelah berlibur. “Kali ini kita memang tidak mendapatkan stock ikan yang banyak sehingga sempat kelabakan ada pesananan pengunjung,” kata Retno pegawai restoran berkah.
Namun, seperti biasanya, larangan mandi dan berenang yang terpampang di beberapa titik begitu menjadi perhatian penting para pengunjung yang justru berbasah kuyub main ombak. Tim SAR dari pos gardu terus berupaya memberikan penringatan kepadapengunjung melalui pengeras suara, namuan hal itu tidak banyak berpengaruh pada pengunjung. “Untunglah kondisi ombak masih aman,” kata Maryadi petugas SAR di Pos Gardu.

Tewas tercebur Sumur

Gedangsari – Warga Hargomulyo kecamatan Gedangsari Gunungkidul petang kemarin gempar. Sesosok mayat diketahui bernama Dwiyanto (26) warga setempat ditemukan tewas didalam sumur dipekarangan rumahnya.
Sumber koran ini menyebutkan, korban ditemukan sekitar pukul 17.00 saat beberapa tetangga korban tengah berusaha melihat sumur yang tengah digali. Beberapa saksi melihat korban terkapar didasar sumur yang tidak tidak terdapat airnya itu.
“Setelah beberapa orang lebih dulu melihat baru saya menyusul untuk menyaksikan ke lokasikejadian itu. Namun korban sudah meninggal,” kata Rahmad salah sata warat setempat dihubungi Harian Jogja, keamrin.
Menurut Rahmad, sumur tersebut memnag tengah di gali pemiliknya karena beberapa tahun ini tidak keluar air. Korban yang sejak siang membantul penggalian sebenarnya sudah selesai dan sudah naik dari dalam sumur namun karena ada peralatan yang tertinggal di dasar sumur maka korban berusaha mengambilnya lagi dengan menuruni tangga yang terpasang dan terpeleset. “Dia mau turun ambil alat yang tertinggal di dalam sumur,” kata Rahamd.
Kejadian tersebut dilaporkan ke Petugas Polsek Gedangsari yang langsung merapat ke lokasi kejadian dengan menggandeng tim SAR. Evakuasi korban baru berhasil sekitar puykul 20.00 karena kondisi gelap dan diameter sumur yang sangat kecil. Petugas Tim SAr dibantu warag ini perlu ekstar hati-hatimengingat di dalam sumur diyakiniterdapat gas yang cukup berbahaya. Berhasil dievakuasi, pemeriksaan yang dilakukan petugas unti Identifikasi Reskrim POlres Gunungkidul dan tim medis dari puskesmas setempat memastikan tidak ada tanda atau luka yang mencurigakan.
Kapolres Gunungkidul, AKBP Drs Suswanto Joko Lelono dikonfirmais memenarkan kejadian tersebut. “Kami sudah lekukan pemeriksaan di tubuhkorban dan hasil menunjukkan murni kecelakaan kerja,” tegas JokoLelono. (gun)

Bantuan Gratis Tapi Beli

GUNUNGKIDUL – Bantuan gabah yang digulirkan gratis dari Dinas Pertnaian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Gunungkidul untuk petunia di desa Ngleri Playen Gunungkidul dijual. Warga terpaksa harus membeli bantuan gabah senilai 5 kg per kepala keluarga seharga Rp 5000,- untuk mendapatkan bantuan tersebut.

“Saya membeli gabah itu seharga Rp 5000 per lima kilogramnya dari pak dukuh,” kata Wajinem (40) warga petani desa Ngleri sata diteui koran ini.

Menurut Wajiyem, bantuan gabah itu tidak diketahui bahwa disalurkan sebagai bantuan secara cuma-cuma untuk petani. Warga lain, termasuk Wajiyem, membeli bantuan gabah gratis ini melalui kepala dusun setempat. “Banyak yang kecele pulang ambil uang, karena tahunya gabah itu gratis ternyata bayar,” kata petani lain.

Uniknya, salah satu warag bernama Wachid yang juga sebagai petani hingga kemairn tidak dapat membeli gabah yang disalurkan melalui kepala dusun itu meski stok gabah bantuan sekarang belum habis terjual.

Kepada Koran ini, Rudi (29) memastikan beberapa warga setempat harus mendapatkan bantuan gabah dengan merogoh koceknya Rp 5000,- untuk paket lima kiloan. “Banyak yag menayakan kenapa kok harus bayar kalau memang bantuan gratis,” tandas Rudi.

Rudi memastikan untuk megganti uang transportasi barang bantuan dari pemereintah ke dusun dipastikan hanya memakan biaya senilai Rp 40 ribu. “Kebetulan harga sudah mendapat informasi kalau saat ambil bantuan biaya carter mobil hanya Rp.40 ribu.Malah yang antar teman saya,” tambahnya.

Bantuan gabah senilai Rp 5000 ini akhirnya membuat warga resah dan keberatan. Selanjutnya melalui perwakilan, warga melaporkan kepada petugas polsek Playen Gunungkidul. Namun laporan warga ini justru ditolak petugas yang dilapori adanyapembagian gabah gratis yang dijual kepada yang berhak menerima. “Kata petugas di Polsek Playen masalah itu tidak bisa ditangani. Alasannya apa juga tidak dijelaskan,” imbuh Rudi melansir seorang warag yang sudah lapor ke polsek.

Karena warga memastikan laporannya tidak bisa ditindaklanjuti, beberapa warga Ngleri memilih untuk memastikan status bantuan gabah ini ke Dinas Pertanian Tanaman pangan dan Holtikultura Kabupaten Gunungkidul. Menurut Rudi, penjelasan petugas Dinas memastikan bantuan itu gratis untuk petani yag memang di distribusikan melalui desa ke dusun. Dari ketarangan petugas Dinas, warag memperoleh informasi bantuan gabah yang tiba-tiba dijual kepada petani itu total senilai 2 kwintal yang digulirkan melalui kelurahan dan dusun.


Dipicu Rencana Kenaikan BBM

Harga Air Tembus Rp 250 ribu per Tangki

WONOSARI : Desas-desus rencana kenaikan BBM yang akan segera dicanangkan pemerintah bakal berdampak di semua sektor. Harga air untuk kebutuhan warga dibeberapa daerah lokasi kekeringan di Gunungkidul bakal mengalami kenaikan sekitar 43 persen.
Untuk harga air untuk lokasi kekeringan di wilayah Kecamatan Gedangsari, dari semula Rp.170 ribu per 5000 liter tangki air, rencananya bakal menembus harga baru mencapai Rp 250 ribu per 5000 liter. Kenaikan harga air untuk suplay ke beberapa daerah lain dipastikan akan mengikuti.
“Kenaikan harga BBM otomatis akan kita ikuti dengan harga suplay air ke daerah-daerah. Tapi harga masih terus dibahas dan itu belum harga final karena terus kita etung-etung,” kata Harno salah satu pengurus Ngudi Lestari, paguyuban jasa swasta pengiriman air Wonosari, Sabtu (17/5) kemarin.
Menurut Harno, rencana kenaikan harga air masih terus dipertimbangkan lagi agar tidak terlalu memperberat beban warga di wilayah krisis air. “Yang terpenting bagi kami warga bisa memaklumi pengaruh kenaikan BBM nanti dan kita tetap bisa beroperasi,” jelas Harno.
Lokasi lain yang akan mengalami kenaikan harga air diantaranya desa terisolir di kecamatan Gedangdari yakni Boyo dan Manggang. Harga air untuk bisa sampai dilokasi daerah perbatasan Gunungkidul dengan Klaten ini bakal menembus harga mencapai Rp 250 ribu untuk tangkiberkapasitas 5000 liter. Untuk kecamatan Nglipar dari harga semulai Rp.120 ribu naik menjadi Rp.175 ribu. Untuk lokasikekeringan di kecamatan Tanjungsari menembus harga Rp 165 ribu dari semula hanya Rp100 ribu.
Rencana harga kenaikan tersebut bakal diikuti dengan beberapa peguyuban pedagang air swasta lain di Gunungkidul, diantaranya Kecamatan Semanu, Playen, Wareng Wonosari, dan Kecamatan Tepus.
Pantauan Harian Jogja di Sumur pompa di tegal air siang kemarin. Pengiriman air ke sejumlah daerah kekeringan di Gunungkidul belum mencapai puncaknya. Dari 39 armada tanki air di Paguyuban Ngudi Lestari, masing-masing armada hanya memenuhi pesanan sekitar lima kali pengiriman dalam sehari, ke sejumlah lokasi seperti Kecamatan Panggang, Tepus, Tanjungsari, Nglipar. ”Untuk saat ini kekeringan di Gunungkidul belum mencapai puncaknya. Memang pesanan sudah ada baik untuk konsumsi hidup mapun pertanian tapi belum begitu banyak,” imbuh Sugito pengemudi tanki air.
Sementara itu, Cb Supriyanto SIP selaku Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi (inkom) Pemkab Gunungkidul memastikan hingga saat ini belum ada permohonan pengiriman air di musim kemarau tahun ini. "Kita sudah siap jika ada pengajuan air di wilayah kekeringan. Armada sudah distanbykan di sejumlah kecamatan," kata Supriyanto.(gun)